Waspada, 5 Hal Ini Akibatkan Kematian Ibu Hamil

By October 26, 2016News

SukaSPORT - Tahukah kamu bahwa angka kematian ibu hamil di Indonesia masih cukup mencemaskan? Sadarkah kamu jika hingga saat ini para ibu tak memiliki informasi yang cukup tentang penyebab hal ini? Lambatnya penanganan dan kurangnya informasi tentang risiko kehamilan menjadi pemicu semakin tingginya angka kematian ibu hamil di Indonesia.

Dalam indikator United Nation Development Program (UNDP) tahun 2015, angka kematian ibu hamil di Indonesia berada pada posisi 190 (kematian) per 100.000 (kelahiran). Pemerintah melalui Survei Demografi dan Kesehatan (SDKI) 2012 menyebut angka kematian ibu hamil di Indonesia masih 359 per 100.000 kematian.

Mengapa begitu tinggi? Padahal hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), September 2000, menghasilkan delapan butir keputusan untuk target tercapainya kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat pada 2015, di mana salah satu butirnya adalah mengurangi angka kematian ibu melahirkan di negara anggota, termasuk Indonesia.

Baca juga: 10 Menu Arisan Nikmat dan Sehat

Dokter Spesialis Kandungan dari RS Hermina Depok, dr. Mutia Prayanti Errufana, SpOG, dalam wawancaranya bersama SukaSport mengatakan, “lambatnya penanganan yang terjadi saat persalinan menjadi pemicu tingginya angka kematian ibu hamil, dan tidak sedikit pihak keluarga seakan menghalangi ketika pihak bidan mengharuskan rujukan untuk ke rumah sakit karena permasalahan biaya”.

Karena itu, amatlah penting bagi para calon ibu agar tidak mengabaikan sejumlah risiko kehamilan, tak terkecuali semua pihak keluarga. Karena saat kehamilan merupakan saat yang paling dinanti setiap pasangan yang telah menikah.

Baca juga: 6 Cara Gampang Bentuk Perut Sixpack Tanpa ke Gym

Tapi sebenarnya apa saja faktor yang menjadi penyebab kematian ibu hamil, berikut SukaLIVE rangkum 5 faktor pemicu tingginya kematian ibu hamil.

1. Pendarahan saat melahirkan

Menurut dr. Mutia Prayanti, pendarahan menjadi pemicu utama tingginya kematian ibu hamil, sehingga ini merupakan risiko yang paling serius. Pendarahan dapat terjadi selama masa kehamilan, persalinan, atau setelah persalinan (post partum). Pendarahan post partum yang bisa menyebabkan kehilangan lebih dari 1.000 ml menjadi penyebab utama kematian.

Meskipun bisa dicegah, tidak semua pendarahan post partum dapat dihindari. Salah satu pemicu utamanya adalah terjadinya placenta previa di mana plasenta menutup jalan lahir. Dalam situasi inilah perlunya ketepatan tim dokter untuk melakukan penanganan agar tidak membahayakan sang ibu.

2. Pre-eklampsia dalam kehamilan

Eklampsia adalah kondisi yang ditandai dengan gagalnya fungsi ginjal saat kehamilan atau pasca melahirkan, sehingga dapat berujung pada kematian ibu. Eklampsia biasa terjadi setelah trimester ketiga kehamilan dan 48 jam pertama setelah melahirkan. Eklampsia adalah komplikasi berat atas kondisi sebelumnya, yaitu pre-eklampsia.

Pre-eklampsia ditandai dengan hipertensi atau tekanan darah tinggi, proteinurea (protein dalam urin), pembengkakan, serta kenaikan berat badan secara tiba-tiba. Pre-eklampsia bisa diidentifikasi pada masa kehamilan dengan berkonsultasi lewat dokter untuk memantau tekanan darah, tes protein urin, serta pemeriksaan fisik. Deteksi dini merupakan kunci untuk mencegah perkembangannya menjadi eklampsia.

3. Sepsis juga dapat sebabkan kematian ibu hamil

Sepsis merupakan infeksi bakteri yang terjadi akibat kurang terjaganya kebersihan pada ibu hamil selama persalinan. Umumnya kematian akibat sepsis terjadi karena proses persalinan yang kurang higienis. Biasanya terjadi pada ibu hamil yang melahirkan melalui dukun beranak.

Gejala awal munculnya sepsis ditandai oleh perasaan menggigil, keputihan berbau busuk, hingga pendarahan dari vagina. Namun, penyakit ini bisa dicegah atau dikelola dengan pemeriksaan yang tepat lewat standar pengendalian infeksi selama persalinan. Ini juga harus ditambah pengobatan antibiotik selama dan sesudah persalinan.

Baca juga: Ini 5 Makanan Penggagal Diet yang Harus Dihindari

4. Infeksi

Infeksi yang paling umum adalah malaria, tuberkulosis, dan hepatitis. Ibu hamil yang terinfeksi penyakit-penyakit tersebut biasanya mengalami dampak lebih buruk dari infeksi itu. Parahnya, infeksi itu bisa menyebabkan kematian sang ibu, kematian janin, persalinan prematur, dan risiko kehamilan lainnya.

Jadi, sangatlah penting bagi ibu yang tengah hamil untuk menjaga kesehatannya dengan mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Agar segala infeksi dapat dicegah dan ditangani tanpa harus membahayakan sang ibu dan anak.

5. Gagal pernapasan akut

Penyebab umum kegagalan pernapasan akut adalah embolisme paru (pulmonary embolisn) yang sering terjadi pada fase setelah persalinan. Kehamilan pada ibu meningkatkan risiko kegagalan pernapasan akut karena adanya peningkatan kemampuan untuk membekukan darah. Peningkatan tersebut dapat meningkatkan risiko trombosis (pembekuan) darah yang secara mendadak menyumbat arteri paru-paru, gejala inilah yang disebut embolisme paru.

Tanda-tanda embolisme paru, seperti sesak napas tiba-tiba, nyeri dada, serta batuk yang disertai darah, harus ditangani dengan baik oleh tim medis. Gagal pernapasan akut inilah yang bisa membahayakan nyawa ibu hamil.

Kesimpulannya…

Pemerintah tengah berupaya menekan angka kematian ibu hamil melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JAMKESNAS) yang dilakukan BPJS Kesehatan. Namun, segala usaha pemerintah tidak akan berjalan baik jika tidak dibantu peran serta masyarakat untuk kesadaran pentingnya kesehatan saat masa kehamilan.

“Untuk menekan angka kematian pada ibu hamil di Indonesia, sangat diperlukan kerja sama yang baik antara pemerintah dan masyarakat, perlunya ditanamkan edukasi serta promosi yang baik mengenai kehamilan yang sehat kepada masyarakat,” tutup dr. Mutia.

Baca juga: besitas Berisiko Perpendek Hidup 8 Tahun

Leave a Reply