Apakah Kamu Orang yang Produktif atau Hanya Gila Kerja?

By November 21, 2016Lifestyle
ciri-ciri orang workaholic

SukaSPORT - Persamaan antara pekerja yang produktif dan workaholic adalah mereka sama-sama bekerja keras dan menghasilkan sesuatu. Sedangkan perbedaannya adalah perasaan dan passion yang mereka rasakan saat mengemban tugas. Workaholic adalah sebutan untuk orang yang memfokuskan energi pada pekerjaan secara berlebihan (orang yang gila kerja). Untuk mengetahui kamu termasuk kriteria yang mana, kamu perlu tahu ciri-ciri orang workaholic dan pekerja yang produktif.

Ketika kamu bekerja, sebaiknya tidak mengorbankan waktu dan tenaga secara berlebihan, agar kamu bisa memanfaatkan waktu untuk teman, keluarga, dan orang-orang terdekat yang kamu sayangi.

Menjadi orang yang gila-gilaan beraktivitas memang tanda orang produktif. Mereka memang menghasilkan sesuatu, namun tak memiliki kualitas yang tinggi karena semua diselesaikan dengan tekanan dan serba instan. Padahal, mereka bisa beraktivitas dengan efisien tanpa harus meninggalkan kualitas. Nah, cari tahu apakah kamu seorang produktif yang berkualitas tinggi ataukah kamu hanya sekadar orang gila kerja.

Baca juga: Performa Kerja Melorot? Atasi dengan 9 Jurus Ini

Ciri-ciri orang workaholic atau pekerja yang produktif:

1. Orang yang gila kerja tidak akan pernah merasa cukup. Sedangkan orang yang produktif tahu apa yang cukup baik bagi dirinya
Orang yang berpeforma tinggi mengetahui batasan kerja dan batasan kemampuan dirinya. Baginya, win is a win, terserah berapa banyak atau sedikit yang mereka peroleh, tapi jika dia sudah berhasil, maka dia akan merasa berhasil. Meraka bisa memilih pertarungan yang bisa mereka menangkan dengan mengenal kemampuannya di bidang tertentu.

Mereka bekerja maksimal pada bidang yang dianggap penting bagi kesuksesannya. Jika dihadapkan pada pekerjaan yang nggak terlalu penting, mereka cukup mengeluarkan kemampuan seadanya, karena tahu memaksakan hanya menguras energi secara sia-sia. Mampu memilih perang yang bisa dimenangkan adalah salah satu unsur buat sukses.

Kita memang tidak boleh merasa cepat puas, namun ciri-ciri orang workaholic adalah tidak tahu kapan harus merasa cukup. “Aku nggak punya cukup waktu. Kerjaanku nggak cukup bagus. Usaha kamu belum cukup” adalah kalimat yang sering diucapkan para workaholics. Mereka selalu fokus untuk maksimal karena belum tahu apa itu definisi sukses bagi dirinya.

2. Orang yang gila kerja berjanji memberikan lebih banyak dibanding orang yang produktif
Seorang workaholic akan terus berlari tanpa tahu kapan harus berhenti. Selalu mengumbar akan memberikan lebih, bukannya memberikan yang terbaik. Itu semua karena mereka tidak becus untuk melihat mana yang lebih penting dan mana yang harus dijadikan prioritas. Semua terlihat prioritas bagi dirinya, sehingga apa yang dia kerjakan nggak pernah maksimal.

Sementara orang yang bekerja pada performa tinggi tahu kapan waktu yang tepat untuk memberi usaha maksimal pada pekerjaan, yakni pada setiap saat. Ketika dibutuhkan mereka mencurahkan semua tenaga dan pikiran untuk membereskan pekerjaannya. Untuk itu, mereka selalu berusaha 100 persen setiap saat, karena percaya berjanji 110 persen, 1.000 persen dan seterusnya hanya merupakan ilusi. Alih-alih sibuk berjanji memberi lebih, orang produktif meningkatkan kapasitasnya hingga hasil usahanya lebih baik daripada orang workaholic.

Baca juga: Ini 10 Jurus agar Tetap Semangat Kerja di Kantor

3. Orang yang produktif akan proaktif dibanding orang yang gila kerja bertindak tanpa planning
Salah satu ciri orang yang produktif adalah mereka selalu proaktif soal jadwal dan pekerjaannya. Sebelum terlelap tidur, mereka sudah menyusun rencana dan to-do list untuk dibereskan besok hari. Mereka sengaja menyusun hari dengan menempatkan tugas terpenting pada prioritas teratas, sehingga besok bisa dikerjakan paling awal. Sementara hal-hal kecil yang kadang tiba-tiba datang bisa dilakukan setelahnya. Semua direncanakan agar tidak ada gangguan dan buang-buang tenaga setiap hari.

Sementara workaholic selalu bertindak reaktif dalam memanajemen waktunya. Semua tanpa rencana dan tiba-tiba, karena mereka membiarkan orang lain yang menentukan apa yang harus dia perbuat sehari-hari. Tidak jarang hal terpenting malah dilakukan belakangan karena gagal mengindentifikasi mana yang prioritas dan mana yang bukan.

4. Orang yang workaholics membiarkan orang lain menilai dirinya. Sedangkan yang produktif tahu cara menilai dirinya
Seorang workaholic, semata-mata bertumpu pada penilaian atasan, dosen, teman, dan koleganya, sehingga apa pun yang dikerjakannya didasari pada perasaan takut gagal memuaskan orang-orang tersebut. Kerjaannya adalah menunggu evaluasi tahunan dan review dari orang lain untuk mengetahui di mana kekurangannya, tanpa ada inisiatif untuk memperbaiki diri setiap hari.

Sedangkan orang yang bekerja pada performa tinggi mengenal baik dirinya sendiri, dia tahu bahwa dirinya berharga dan punya pengaruh terhadap orang di sekitanya. Dengan demikian, mereka bisa berkarya dengan rasa tenang tanpa kekangan. Penilaian diri ini adalah hasil evaluasi diri yang dilakukan secara berkala, sehingga mereka bisa meninjau pekerjaannya dan improve dari waktu ke waktu. Mereka memiliki kemampuan untuk mengkritisi diri sendiri, bukan sekadar menunggu feedback dari orang lain.

5. Orang workaholics memfokuskan pada hasil akhir, sementara orang produktif berfokus pada proses
Orang yang workaholic fokus pada hasil dan pendapatan yang masuk ke kantongnya. Meskipun mereka sudah merasa itu benar, namun sesungguhnya mereka nggak bisa mengontrol hasil dan pendapatan. Agar mendapat hasil yang maksimal, kamu harus fokus untuk mengontrol usaha dan prosedurnya, bukan hasil akhirnya.

Sementara mereka yang produktif sadar bahwa dalam beraktivitas semestinya kita harus fokus pada usaha dan proses yang dikerjakan. Karena proses merupakan sesuatu yang bisa kita kontrol. Dalam proses itulah kita bisa mengeluarkan kemampuan terbaik.

6. Ciri-ciri orang workaholic mendahulukan orang lain dibanding orang produktif yang mendahulukan dirinya
Seorang workaholic akan mendahulukan orang lain sebelum kepentingannya. Memang ini adalah tindakan yang tidak egois, namun apalah artinya jika tidak konsisten dilakukan. Saat kita terus-terusan bekerja demi orang lain, tanpa ada rehat untuk diri sendiri, kita bakal kelelahan sendiri. Sifat mementingkan orang lain yang dimiliki workaholic sebenarnya terpuji, tapi jadi percuma karena didasari oleh keinginan untuk dianggap pahlawan oleh orang lain.

Sementara, orang produktif sadar kalau dirinya bukan pahlawan, mereka tahu kemampuan dirinya. Mereka mementingkan dirinya terlebih dahulu, dengan demikian mereka bisa bekerja sama dengan orang lain secara maksimal. Mungkin tindakan ini sekilas terlihat egois, namun sebenarnya tidak sama juga. Karena kecenderungannya untuk mementingkan diri berlandaskan pada niat, agar bisa mambantu orang secara maksimal apabila urusannya sendiri sudah maksimal. Jika seseorang sudah punya pengalaman pasti dia lebih kompeten dalam menolong yang lain bukan?

7. Orang workaholic bekerja agar terlihat sibuk, sementara orang produktif sibuk demi pekerjaan
Orang yang workaholic yang bertujuan agar terlihat penting dan sibuk di mata orang lain. Orang yang gila kerja mengisi waktu-waktu luangnya dengan kesibukan, karena mereka merasa tidak tenang jika tidak mengerjakan sesuatu. Rasa insecure ini adalah akibat dari nihilnya pemahaman mereka soal nilai dan kemampuan yang dia miliki. Orang gila ini percaya, makin sibuk dirinya maka makin penting pula dirinya, padahal tidak semua yang mereka kerjakan penting bagi dirinya, apalagi orang lain.

Sedangkan tujuan utama orang berperfoma tinggi adalah bagaimana caranya agar apa yang dia lakukan memiliki hasil dan bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain. Jika dia menemui jalan buntu, mereka akan mengatur strategi untuk menemukan jalan lain atau kalau perlu membuat jalan yang baru. Semua dilakukan agar tenaga, waktu, dan uang yang dikeluarkan agar tidak berubah jadi sia-sia.

Akhirnya, mereka yang bekerja produktif dengan performa tinggi adalah mereka yang bekerja keras dalam lingkungan yang sehat, cara yang sehat, serta merasa bahagia dan terinspirasi oleh pekerjaannya. Sementara para penggila kerja juga bekerja keras, namun dengan cara yang tidak sehat, lingkungan yang buruk, dan tak bahagia dengan pekerjaannya. Alih-alih terinspirasi, mereka selalu merasa kelelahan terkuras setiap harinya.

Jadi, kamu yang mana, orang yang produktif atau yang gila kerja?

Leave a Reply