SukaSPORT - Penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) hingga kini belum bisa disembuhkan. Jumlah kasus HIV dan AIDS dalam sepuluh tahun terakhir meningkat. Peningkatan ini seiring dengan kian bertambahnya masyarakat yang sadar dan melakukan tes HIV. Jumlah penyebaran virus HIV di Jakarta masuk dalam peringkat tertinggi di Indonesia, yakni sebanyak 38.464 kasus.
Menurut peneliti dari The Scripps Research Institute dan Weill Cornell Medical College, infeksi HIV sulit disembuhkan karena struktur proteinnya yang terdiri dari 3 bagian (trimer). Banyak peneliti gagal membuat vaksin HIV karena tidak berhasil meredam aktivitas Env, salah satu bagian dari trimer. Selain itu, struktur protein tersebut lihai bermutasi untuk menghindari dan keluar dari penjagaan sistem kekebalan tubuh.
Pernah ada harapan bahwa obat jenis Antiretroviral (ARV) dapat menyembuhkan orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Namun, penelitian mutakhir menemukan bahwa jenis obat antiretroviral tersebut hanya efektif mengurangi angka kematian akibat HIV, bukan mengobatinya. Bahkan, saat ini justru semakin banyak ditemukan efek negatif dari penggunaan obat jenis tersebut dalam jangka lama.
Baca juga: Cara Mencegah Diabetes dengan Diet Sehat
Direktur Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Sigit Priohutomo, mengatakan, meningkatnya jumlah kasus HIV dan AIDS di Indonesia seperti fenomena gunung es. Namun fenomena tersebut perlahan tapi pasti mulai terangkat.
Menurut data Kemenkes, sejak 2005 hingga September 2015, terdapat kasus HIV sebanyak 184.929 yang didapat dari laporan layanan konseling dan tes HIV. Jumlah penyebaran virus HIV di Jakarta tertinggi, yaitu di DKI Jakarta (38.464 kasus), diikuti Jawa Timur (24.104 kasus), Papua (20.147 kasus), Jawa Barat (17.075 kasus), dan Jawa Tengah (12.267 kasus).
Baca juga: Awas, Ternyata Orang Kurus Bisa Kena Diabetes!
Kasus HIV Juli-September 2015 sejumlah 6.779 kasus. Faktor risiko penularan HIV tertinggi adalah hubungan seks tidak aman pada heteroseksual (46,2 persen) penggunaan jarum suntik tidak steril pada Penasun (3,4 persen), dan Lelaki sesama Lelaki (LSL) (24,4 persen).
Sementara, kasus AIDS hingga September 2015 sejumlah 68.917 kasus. Berdasarkan kelompok umur, persentase kasus AIDS tahun 2015 didapatkan tertinggi pada usia 20-29 tahun (32,0 persen), 30-39 tahun (29,4 persen), 40-49 tahun (11,8 persen), 50-59 tahun (3,9 persen) kemudian 15-19 tahun (3 persen).
Kasus AIDS di Indonesia ditemukan pertama kali pada 1987. Pada September 2015, kasus AIDS tersebar di 381 (77 persen) dari 498 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia.
Selain penyebaran virus HIV di Jakarta, wilayah pertama kali ditemukan adanya kasus AIDS adalah Provinsi Bali. Sedangkan yang terakhir melaporkan adalah Provinsi Sulawesi Barat pada 2011.
Baca juga: 7 Ancaman bagi Kamu yang Mau Sedot Lemak
Berdasarkan data dari tahun 1987-2013, jumlah penderita AIDS dari kalangan ibu rumah tangga mencapai 6.230 orang. Jumlah ini 3 kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan perempuan pekerja seks yang “hanya” sebesar 2.021 orang.
Peningkatan jumlah ibu rumah tangga yang menderita AIDS ini diperkirakan akan berdampak makin meningkatnya jumlah infeksi HIV pada bayi. Nah, bagi para ibu yang belum yakin apakah aman dari virus HIV, segeralah melakukan tes untuk mengetahui statusnya. Cegah penyebaran HIV dari sekarang!
